Konser Boi Akih Di Ambon, Save Jargaria Tanah Aru'e

nona   Selasa, 16 Mei 2017   04:41 WIB   -   Komunitas SOTEK

SUARA bening Monica Akihary mengalun di atas panggung Taman Pattimura, jantung Kota Ambon. Musisi Belanda Niels Brower mengiring dengan gitar mautnya. Owen Kent Jr asal Amerika menabuh drum dan Yedo Gibson dari Brazil meniup saxofon. Nyong Ambon Mervil Lewaharilla bermain gitar bass. Komposisi ini masih ditambah empat personil Molukka Hiphop Community (MHC) yakni Hayaka Nendissa, Revelino Berry, Marcelino Tetelepta dan Flip Pormes.

“Save Jargaria, tanah Aru e,” begitulah penggalan terakhir lagu Save Aru yang dinyanyikan Monika Akihary, vokalis Boi Akih.
Lagu Save Aru menjadi tembang pamungkas konser Boi Akih, Rabu malam. Ratusan penonton antusias melihat kolaborasi seniman timur-barat ini. Apalagi Monika mampu membangun komunikasi dengan penonton dalam Bahasa Indonesia dan Melayu Ambon nan fasih.
Monika mengaku, ketika berada di Belanda, dirinya mengetahui adanya ancaman terhadap kehidupan di Aru melalui twitter Jacky Manuputty, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Gereja Protestan Maluku (GPM). Sebab itu ketika datang di Ambon, dirinya bertekad melakukan sesuatu untuk menyelamatkan saudara-saudara di Aru. Monika juga mengundang seluruh pendukung acara naik ke atas panggung, termasuk Walikota Richard Louhenapessy dan Wakil Walikota Sam Latuconsina untuk sama-sama meneriakkan Save Aru.

Konser Boi Akih dibuka dengan performa apik group band Ikan Asar. Jandry Welson Pattinama (gitar/vocal), Christianto Pattinama (gitar/vocal), Muhammad (gitar bass) dan Marvin Laurens (drum) melantunkan tiga lagu beraliran rock dan sentuhan blues yang menawan. Penonton langsung diajak bernyanyi dan berjingkrak.

Pembukaan oleh Ikan Asar Band dilanjutkan dengan kelompok musisi muda fenomenal Loleba Project. Loleba adalah kolaborasi berbagai talenta. Ada Figgy Papilaya (keyboard), Rhiofaldo Titaley (keyboard), Carlo Labobar (gitar), Delon Imlabla (gitar bass), Ronny Alfons (flute), Roy Matahelumual (saxofon) dan Celo Quezon (drum). Vokalis Grace Huwae ditemani Michael Mailuhu yang menjadi vokalis pengganti untuk Siera Latupeirissa yang berada di Jakarta. Loleba melantunkan dua tembang popular dengan komposisi baru yang dikerjakan Figgy Papilaya yakni Ole Sio dan Nusaniwe. Penonton puas.

Boi Akih kemudian naik di pentas membawakan lagu-lagu dari album Circles In A Square Society. Setelah lima lagu termasuk Redemption Song milik Bob Marley. Monika sempat turun dari panggung berbaur di tengah penonton dan mengajak penonton menyanyikan potongan lagu tersebut.

Sebuah kolaborasi lain terjadi setelah itu. Musik jazz, vokal Monika dan ada Ronal Regang, penari teatrikal tunggal. Saat Boi Akih bermain music, Ronal menari dan Rudi Fofid membaca puisi berjudul Lautan Lagu-Lagu. Persembahan musik jazz, tari teatrikal dan puisi, masih dilatari demo lukisan oleh pelukis Tezar Saiya di sisi panggung.

Setelah Ronal dan Rudi turun dari panggung, Monika lantas mengundang MHC. Mulanya dengan Hayaka dan Berry untuk lagu Marta Christina, setelah itu ada Marcelino dan Flip Pormes untuk lagu Save Aru. Kolaborasi Boi Akih dan MHC ini bukan yang pertama kali. Tahun 2010, dua kelompok ini pernah tampil dan sebuah konser mini di Walang Sibu-Sibu, Ambon.
Boi Akih pernah tampil di Taman Budaya, Lapangan Merdeka saat Hut Kota Ambon, Sibu-Sibu dan akhirnya di Pattimura Park. Kelompok musisi yang sudah melahirkan tujuh album ini dikenal sebagai grup jazz idealis yang selalu tampil di berbagai belahan dunia, termasuk festival jazz internasional di banyak negara.

Sebelum ke Ambon, Boi Akih tampil di Kuala Lumpur dan Samarinda. Dari Ambon, mereka akan tampil di Jakarta, lantas kembali ke Belanda, untuk mempersiapkan diri ke festival di Prancis.

“Beta harap akan kembali lagi di Ambon, suatu saat,” kata Monika sebelum ke Jakarta.(Pheres Hoek)

TOP